5. Partikulat (PM10)

Karakteristik :

Partikulat adalah padatan atau liquid di udara dalam bentuk asap, debu dan uap, yang dapat tinggal di atmosfer dalam waktu yang lama.

Debu memiliki sifat-sifat berikut, antara lain :

  1. Debu dapat mengendap karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi.
  2. Debu memiliki permukaan yang selalu basah karena dilapisi oleh air.
  3. Debu mampu membentuk gumpalan atau koloni karena permukannya yang selalu basah.
  4. Debu bersifat listrik statis, artinya debu mampu menangkap partikel lain yang berlawanan.
  5. Debu bersifat opsis, artinya debu mampu memancarkan cahaya pada saat gelap

Konsentrasi Alamiah :

Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin atau berasal dari muntahan letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon akan murni atau bercampur dengan gas-gas organik dan berbagai proses industri seperti proses penggilingan dan penyemprotan, dapat menyebabkan abu berterbangan di udara, seperti yang juga dihasilkan oleh emisi kendaraan bermotor.

Konsentrasi yang menimbulkan dampak :

Dampak dari partikulat debu terhadapa kesehatan manusia berbeda-beda, tergantung dari ukuran partikulat itu sendiri baik dalam bentuk padat maupun cairan. Ukuran partikulat debu yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 10 mikron.

Debu yang berukuran antara 5-10 mikron bila terhisap akan tertahan dan tertimbun pada saluran napas bagian atas; yang berukuran antara 3-5 mikron tertahan dan tertimbun pada saluran napas tengah. Partikel debu dengan ukuran 1-3 mikron disebut debu respirabel merupakan yang paling berbahaya karena tertahan dan tertimbun mulai dari bionkiolus terminalis sampai alveoli. Debu yang ukurannya kurang dari 1 mikron tidak mudah mengendap di alveoli, debu yang ukurannya antara 0,1-0,5 mikron berdifusi dengan gerak Brown keluar masuk alveoli. Bila membentur alveoli ia dapat tertimbun di situ.

Meskipun batas debu respirabel adalah 5 mikron, tetapi debu dengan ukuran 5-10 mikron dengan kadar berbeda dapat masuk ke dalam alveoli. Debu yang berukuran lebih dari 5 mikron akan dikeluarkan semuanya bila jumlahnya kurang dari 10 partikel per miimeter kubik udara. Bila jumlahnya 1.000 partikel per milimeter kubik udara, maka 10% dari jumlah itu akan ditimbun dalam paru.

Dampak terhadap manusia, hewan, tumbuhan, material, dan ekosistem lingkungan :

Berbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya penyakit atau gangguan pada saluran napas akibat debu. Faktor itu antara lain adalah faktor debu yang meliputi ukuran partikel, bentuk, konsentrasi, daya larut dan sifat kimiawi, lama paparan. Faktor individual meliputi mekanisme pertahanan paru, anatomi dan fisiologi saluran napas dan faktor imunologis.

Debu yang masuk ke dalam saluan napas, menyebabkan timbulnya reaksi mekanisme pertahanan nonspesifik berupa batuk, bersin, gangguan transport mukosilier dan fagositosis oleh makrofag. Otot polos di sekitar jalan napas dapat terangsang sehingga menimbulkan penyempitan. Keadaan ini terjadi biasanya bila kadar debu melebihi nilai ambang batas .

Penyakit paru yang dapat timbul karena debu selain tergantung pada sifat-sifat debu, juga tergantung pada jenis debu, lama paparan dan kepekaan individual. Pneumokoniosis biasanya timbul setclah paparan bertahun-tahun. Apabila kadar debu tinggi atau kadar silika bebas tinggi dapat terjadi silikosis akut yang bermanifestasi setelah paparan 6 bulan. Dalam masa paparan yang sama seseozang tepat mengalami kelainan yang berat sedangkan yang lain kelainnya ringan akibat adanya kepekaan individual. Penyakit akibat debu antara lain adalah asma kerja, bronkitis industri, pneumokoniosis batubara, siikosis, asbestosis dan kanker paru.

PM10 diketahui dapat meningkatkan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung dan pernafasan, pada konsentrasi 140 µg/m3 dapat menurunkan fungsi paru-paru pada anak-anak, sementara pada konsentrasi 350 µg/m3 dapat memperparah kondisi penderita bronkhitis. Toksisitas dari partikel inhalable juga tergantung dari komposisinya.

Selain itu partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata (Visibility).

Sistem pernapasan rentan terhadap partikulat debu

6. Timah Hitam // Timbal (Pb)

Karakteristik :

Timbal adalah suatu logam berat bewarna kebiru-biruan atau abu-abu keperakan dan besifat lunak. Gambarnya adalah sebagai berikut :

Logam Timbal

http://jagadalammineralindo.indonetwork.net/974609/galena-pb-lead-timah-hitam.htm

Timah hitam lebih dikenal sebagai dengan timbal. Dalam bahasa ilmiah dikenal dengan kata Plumbum atau disingkat dengan Pb. Sifat fisik dari Pb adalah sebagai berikut :

  • Golongan
: IV A
  • Nomor Atom (NA)
: 82
  • Berat Atom (BA)
: 207,2
  • Titik Leleh
: 327,5 °C
  • Titik Didil
: 1.740°C (tekanan atmosfer)

Letak Unsur Timbal (Pb) dalam tabel Periodik

Sumber foto : http://id.wikipedia.org/wiki/Timbal

Konsentrasi Alamiah :

Menurut World Health Organization (WHO) pajanan timbal yang diperkenankan untuk pekerja laki-laki 40 µg/dL dan untuk pekerja perempuan adalah 30 µg/dL (DeRoos, 1997 dan OSHA, 2005).

Konsentrasi yang menimbulkan dampak :

Kadar Pb di alam sangat bervariasi tetapi kandungan dalam tubuh manusia berkisar antara 100–400 mg. Sumber masukan Pb adalah makanan terutama bagi mereka yang tidak bekerja atau kontak dengan Pb. Diperkirakan rata-rata masukkan Pb melalui makanan adalah 300 ug per hari dengan kisaran antara 100–500 mg perhari. Rata-rata masukkan melalui air minum adalah 20 mg dengan kisaran antara 10–100 mg. Hanya sebagian asupan (intake) yang diabsorpsi melalui pencernaan.

Manusia dengan pemajanan rendah mengandung 10–30 mg Pb/100 g darah Manusia yang mendapat pemajanan kadar tinggi mengandung lebih dari 100 mg/100 g darah kandungan dalam darah sekitar 40 mg Pb/100g dianggap terpajan berat atau mengabsorpsi Pb cukup tinggi walau tidak terdeteksi tanda-tanda keluhan keracunan. Terdapat perbedaan tingkat kadar Pb di perkantoran dan pedesaan wanita cenderung mengandung Pb lebih rendah dibanding pria, dan pada perokok lebih tinggi dibandingkan bukan perokok

Dampak terhadap manusia, hewan, tumbuhan, material, ekosistem lingkungan :

Gejala klinis keracunan timah hitam pada individu dewasa tidak akan timbul pada kadar Pb yang terkandung dalam darah dibawah 80 mg Pb/100 g darah namun hambatan aktivitas enzim untuk sintesa haemoglobin sudah terjadi pada kandungan Pb normal (30–40 mg).

Gejala keracunan akut didapati bila tertelan dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan sakit perut muntah atau diare akut. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilang nafsu makan, konstipasi lelah sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan, Kejang dan gangguan penglihatan. Timbal dapat menyebabkan kerusakan sistem syaraf dan masalah pencernaan, sedangkan berbagai bahan kimia yang mengandung timbal dapat menyebabkan kanker. Timah hitam atau timbal berbahaya bagi anak-anak. Berikut adalah efek kesehatan anak terhadap konsentrasi timbal  :

Jumlah Pb di udara mengalami peningkatan yang sangat drastis sejak dimulainya revolusi industri di Benua Eropa, asap yang berasal dari cerobong asap pabrik hingga knalpot kendaraan telah melepaskan Pb ke udara, hal ini berlangsung terus menerus sepanjang hari, sehingga kandungan Pb di udara naik secara mencolok sekali, hal ini dibuktikan dengan satu hasil penelitian terhadap kandungan Pb yang terdapat pada lapisan es di Greenland pada tahun 1969.

Berikut adalah sumber pencemargas Timbal:

Timbal dari Emisi Kendaraan Bermotor

Timbal dari Cerobong Asap Pabrik

Untuk mengurangi bahaya pajanan timbal makan, di Jabodetabek pada bulan Juli 2001 lalu di Denpasar, Batam dan Cirebon kandungan Pb di dalam bensin telah dihapuskan, yang secara langsung telah menurunkan konsentrasi timbal di udara. Tetapi baru kota-kota tersebut yang mendapatkan pasokan bensin tanpa timbal.

Daftar Pustaka :

http://udarakota.bappenas.go.id/view.php?page=pajanan (diakses tanggal 11 Februari 2010)

http://www.depkes.go.id/downloads/Udara.PDF (diakses tanggal 12 Februari 2010)

http://journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-1-07.pdf (diakses tanggal 11 Februari 2010)

http://epidcommunity.multiply.com/journal/item/7 (diakses tanggal 13 februari 2010)